Mendag Indonesia Ajak Dunia Perkuat Komitmen Politik untuk Reformasi WTO
Dalam forum G20 Trade and Investment Ministerial Meeting (G20 TIMM) di Gqeberha, Afrika Selatan, Indonesia menegaskan perlunya dukungan politik global agar Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dapat direformasi secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Menteri Perdagangan Indonesia, Budi Santoso, menyuarakan bahwa prinsip fundamental WTO harus dipertahankan, seiring dengan upaya memperbaiki kepercayaan terhadap sistem perdagangan multilateral.
Kepentingan Global terhadap Reformasi WTO
Peran Politik dan Tantangan Unilateral
Dalam sambutannya, Budi Santoso mengajak semua menteri perdagangan untuk mengambil langkah awal yang konkret: mencari titik temu antarnegara anggota WTO, membangun kembali kepercayaan publik dan pemangku kepentingan terhadap mekanisme WTO.
Dia menyebutkan bahwa meskipun menghadapi tantangan, seperti kebijakan unilateral yang semakin banyak, tindakan ini penting agar sistem perdagangan global tetap adil dan inklusif.
Tantangan utama yang dilihat adalah munculnya langkah-langkah sepihak dari beberapa negara yang mengancam asas utama perdagangan multilateral. Keputusan unilateral ini bukan hanya merusak kepercayaan, tapi juga mengurangi efektivitas WTO sebagai lembaga yang mengatur banyak aspek perdagangan antarnegara.
Nilai-nilai Dasar yang Harus Dijaga
Indonesia menekankan bahwa Preambule Persetujuan Marrakesh, yang memuat nilai-nilai seperti pembangunan, pertumbuhan ekonomi, dan keadilan dalam perdagangan, harus tetap menjadi pedoman dalam reformasi.
Budi mengingatkan bahwa meski WTO memiliki kekurangan, asas-asas ini adalah fondasi yang menjadi dasar sistem perdagangan dunia sejak dibentuk.
Agenda Reformasi & Komitmen G20
Titik Fokus Reformasi WTO
Di sela-sela pertemuan G20 TIMM, beberapa poin utama reformasi WTO dibahas dan dimasukkan dalam kesepakatan bersama. Antara lain:
-
Memperkuat sistem perdagangan multilateral agar terwujud adil, transparan, dan inklusif.
-
Mendukung suksesnya Konferensi Tingkat Menteri WTO ke-14 yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2026 di Kamerun.
-
Memperluas dan memperkaya rantai pasok global sebagai bagian dari strategi pertumbuhan inklusif.
-
Mengintegrasikan perdagangan dan investasi dalam proses industrialisasi, terutama bagi negara berkembang.
Seruan untuk Menahan Politik dalam Perdagangan
Selain itu, Indonesia menyerukan agar negara-negara anggota G20 tidak mengubah perdagangan menjadi instrumen politik. Menurut Budi Santoso, penggunaan perdagangan sebagai senjata diplomasi atau alat paksaan justru merusak tatanan multilateral.
Indonesia juga mendorong agar pembangunan menjadi aspek yang diamalkan dalam kesepakatan dan kebijakan perdagangan internasional, agar manfaatnya bisa dirasakan oleh negara-negara berkembang.
Dampak dan Harapan ke Depan
Memperkuat Kepercayaan dan Sistem
Jika reformasi WTO berjalan baik, diharapkan muncul kejelasan hukum dan mekanisme yang lebih kuat serta adil. Kepercayaan antarnegara anggota bisa terbangun kembali, dan anggota yang selama ini ragu terhadap WTO sebagai solusi utama dalam sengketa perdagangan mungkin akan kembali melihat manfaatnya.
Ancaman Jika Reformasi Tak Terealisasi
Sebaliknya, jika reformasi tidak segera ditindaklanjuti, efek negatif bisa muncul: langkah unilateral akan makin marak, kesenjangan antarnegara berkembang dan maju bisa melebar, dan WTO bisa kehilangan relevansinya.
Dalam skenario terburuk, sistem perdagangan dunia bisa kembali ke era proteksionisme yang lebih tinggi, merugikan negara-negara yang tergantung pada perdagangan eksternal.
Reformasi WTO bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Indonesia, melalui Menteri Perdagangan Budi Santoso, mendorong agar dukungan politik global ditingkatkan untuk menjaga nilai-nilai dasar WTO serta memperkuat sistem perdagangan multilateral.
Dengan agenda-agenda spesifik seperti keberlanjutan, inklusivitas, dan transparansi, harapannya konferensi WTO mendatang dan kerja sama antarnegara bisa lebih efektif. Dunia kini ditantang untuk bersatu demi sistem perdagangan yang adil dan bermanfaat bagi semua pihak.

Komentar
Posting Komentar