Listrik Gratis dari Pemprov Jateng Yang Membantu Anak Untuk Belajar Dengan Nyaman
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meluncurkan program bantuan satu ribu sambungan listrik gratis untuk rumah tangga kurang mampu di wilayahnya selama 2025.
Inisiatif yang dibiayai melalui APBD itu ditujukan untuk mengurangi beban listrik warga dan memperbaiki kualitas kehidupan, terutama bagi anak-anak yang ingin belajar di malam hari dengan nyaman.
Warga di sejumlah desa merasa sangat terbantu. Sebelumnya, banyak keluarga yang listriknya bermasalah: sering padam, tak kuat untuk dua rumah, atau salurannya masih berbagi dengan tetangga.
Dengan listrik mandiri dari bantuan pemerintah, kini aktivitas sehari-hari bisa berjalan lebih lancar. Memasak, mengisi daya perangkat elektronik, dan belajar di malam hari kini tak lagi dibatasi oleh pemadaman mendadak.
Dampak Program Listrik Gratis di Jateng
Kabar Baik bagi Keluarga Berpenghasilan Rendah
Seorang warga Desa Sidokumpul, Demak, Reni Handayani, bercerita bahwa sebelum bantuan, keluarganya harus berbagi listrik dengan rumah tetangga. Tekanan listrik sering menurun, menyebabkan lampu mati saat malam hari saat anaknya belajar.
Setelah mendapatkan sambungan listrik sendiri, Reni menyebut bahwa sekarang lampu tak lagi mati tiba-tiba dan anak-anak bisa belajar dengan lebih tenang.
Warga lainnya, Rohyati, mengaku bahwa selama ini dirinya belum punya biaya untuk memasang listrik sendiri. Ia selama ini memanfaatkan saluran listrik tetangga atau mertua. Namun kini, bantuan listrik gratis memungkinkan ia punya sambungan resmi. “Sekarang bisa menyalakan alat dapur, televisi, dan perangkat elektronik sendiri,” ujarnya.
Begitu pula dengan Munif Muhtadi, yang sebelumnya masih menggunakan saluran listrik milik orang tuanya. Ia sering harus bergantian menggunakan peralatan elektronik agar listrik tidak anjlok. Kini, setelah listrik sendiri, keseharian menjadi lebih lancar.
Momentum dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan
Gubernur Jawa Tengah menyatakan bahwa bantuan listrik ini termasuk bagian dari strategi pengentasan kemiskinan melalui program “Ngopeni Nglakoni Jawa Tengah.” Ia berharap penerapan intervensi sosial yang meringankan beban warga bisa diperluas, terutama kepada mereka yang sudah terdata dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
Kepala Dinas ESDM Jawa Tengah menjelaskan bahwa target satu ribu sambungan sudah terealisasikan di seluruh kabupaten/kota di provinsi tersebut. Total anggaran yang dialokasikan mencapai Rp1,225 miliar dari APBD 2025, dimana setiap penerima mendapat bantuan senilai Rp1,225 juta.
Detail Program dan Angka-Angka
Alokasi dan Realisasi Bantuan
Untuk tahun 2025, satu ribu rumah tangga kurang mampu menjadi penerima sambungan listrik gratis. Semua penerima tersebar di berbagai wilayah di Jawa Tengah. Pemerintah menyatakan bahwa realisasi program sudah tuntas.
Total dana yang digelontorkan sebesar Rp1,225 miliar, dihitung berdasarkan bantuan per rumah sebesar Rp1,225 juta. Dengan sokongan anggaran ini, program dianggap cukup substansial untuk menyasar rumah tangga yang selama ini tak memiliki akses listrik stabil.
Kriteria Penerima dan Mekanisme Bantuan
Penerima ditargetkan dari kalangan warga yang tercatat dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Dengan basis data tersebut, pemerintah berharap bantuan tepat sasaran. Selain itu, proses pengusulan dan pelaksanaan di wilayah kabupaten/kota dikoordinasikan oleh dinas ESDM provinsi dengan dukungan pemerintah daerah.
Tak disebutkan secara rinci apakah bantuan hanya mencakup pemasangan sambungan (instalasi dan infrastruktur) atau juga potongan tagihan listrik di masa depan. Namun warga menyebut bahwa sekarang mereka sudah memiliki sambungan listrik sendiri, tidak lagi harus bergantung pada tetangga atau berbagi jalur.
Analisis dari Manfaat, Tantangan, dan Peluang
Manfaat Langsung bagi Pendidikan dan Kehidupan Keluarga
Manfaat yang paling nyata adalah anak-anak menjadi bisa belajar malam hari tanpa takut listrik padam. Kebutuhan dasar seperti penerangan, pengisian gadget untuk daring, dan akses informasi kini jauh lebih mudah terpenuhi.
Selain itu, aktivitas rumah tangga yang bergantung listrik — seperti mengoperasikan alat dapur atau menyalakan televisi — menjadi lebih handal dan stabil.
Efek lain yang bisa muncul adalah peningkatan produktivitas masyarakat. Dengan listrik stabil, usaha kecil yang bergantung pada listrik bisa berjalan lebih lancar. Warga memiliki peluang menggunakan teknologi lebih banyak dalam kehidupan sehari-hari, yang pada akhirnya bisa mendorong peningkatan kesejahteraan.
Tantangan & Potensi Persoalan
Meski manfaatnya besar, beberapa tantangan mungkin muncul. Pertama, apakah sambungan listrik baru ini akan diikuti kemampuan konsumen membayar tagihan listrik reguler? Jika tidak diiringi dukungan subsidi atau regulasi tarif khusus, beban listrik tetap bisa terasa berat.
Kedua, pemeliharaan jaringan listrik di daerah terpencil bisa mengalami kendala. Pemadaman lokal atau gangguan teknis bisa tetap terjadi bagi penerima di wilayah dengan infrastruktur lemah. Pemerintah daerah dan operator listrik harus memastikan kualitas dan kontinuitas jaringan.
Ketiga, keberlanjutan program ini juga menjadi perhatian: apakah pada tahun-tahun berikutnya bantuan akan diperluas atau digantikan dengan model subsidi lain? Jika program hanya berjalan satu musim, efek jangka panjangnya bisa kurang optimal.
Peluang Pengembangan ke Depannya
Berangkat dari program ini, pemerintah bisa memperluas cakupan ke lebih banyak rumah tangga di golongan tidak mampu, terutama di daerah sulit listrik. Selain itu, bisa ditambahkan pilihan tarif listrik khusus atau subsidi listrik berskema sosial agar penerima tidak terbebani tagihan di masa depan.
Sinergi dengan program pendidikan digital atau bantuan perangkat daring (laptop, WiFi) juga bisa memperkuat manfaatnya. Jadi bukan hanya listrik yang tersedia, tetapi juga akses ke sumber belajar digital yang memadai.

Komentar
Posting Komentar